CODEX EVERNIUM Asal-Usul, Agama, Bahasa dan Budaya di Everna








 


Sang Sumber Mencipta Semesta - Sumber Gamber: suntwirl.deviantart.com






KISAH SANG SUMBER Andry Chang





CODEX EVERNIUM – Asal-Usul Semesta Omnia, Dunia Terra Everna dan Agama di
Everna





Pada
mulanya, hanya ada gelap dan ketiadaan. Segalanya hampa, segalanya tiada.


Lalu
setitik energi terpercik dari ketiadaan itu, membentuk sebuah zat muasal yang
disebut Sang Sumber. Melahirkan sebuah kesadaran baru, makhluk, energi,
sekaligus benda pertama di seluruh jagad raya.


Seiring
waktu yang mulai berjalan, Sang Sumber tumbuh dan terus berkembang, hingga
bagaikan bayi dalam telur sebesar jagad raya. Akhirnya, di puncak kejenuhan dan
pertumbukan antara zat dan energi itu, cangkang Sang Sumber yang berbentuk satu
matahari sebesar jagad meledak. Ledakan besar itulah yang kemudian disebut
Supernova.





Serpihan-serpihan
Supernova itu kemudian membentuk bintang-bintang dan planet-planet, menyebar
hingga ke ujung-ujung terjauh semesta. Kumpulan-kumpulan bintang dan planet itu
membentuk galaksi, gugusan rasi bintang dan unit terkecil, tata surya dengan
jumlah tak terhitung banyaknya.





Sang
Sumber yang lahir dari Supernova itu memandang jagad raya dengan amat sukacita,
dan menamainya Semesta Omnia. Apalagi di banyak sekali planet bersemayam pula
energi-energi kehidupan yang sejiwa, sesinergi dengan sumbernya, Sang Sumber
sendiri. Sang Sumber tahu ia tak sendirian di jagad raya ini, dan sukacitanya
sempurna sudah.





Namun,
keberadaan Sang Sumber terlalu mulia, ilahi, besar dan maha kuasa. Ia tak ingin
mengistimewakan planet, ras atau entitas kehidupan tertentu dengan tinggal di
salah satu planet itu. Walaupun ada satu planet biru yang termasuk paling ideal
di matanya, yaitu Terra Everna. Apalagi setelah melihat sebuah planet
berpenghuni tiba-tiba meledak dan musnah, Sang Sumber tahu ia punya tanggungjawab
untuk memelihara seluruh semesta itu. Bintang-bintang dan planet-planet
terlahir, tapi juga bisa musnah. Perlu semesta yang lebih ideal, yang lebih
abadi dan sejati daripada “cangkang” ini.





Karena
itulah Sang Sumber mengerahkan segala kemahakuasaannya yang tak terbatas,
menciptakan sebuah semesta lain yan lebih kuat, kekal dan abadi daripada Omnia,
“semesta cangkang” ini. Inilah sebuah jagad dalam dimensi ilahi yang kemudian
dinamakan Aethera, alias surga.





Dari
surga, Sang Sumber mengawasi dan memperhatikan perputaran alam dan kehidupan
itu, mengamati bagaimana makhluk-makhluk sebuah dunia tumbuh, berevolusi
menjadi lebih sempurna dan makin serupa dengannya. Seiring waktu, kerinduan
Sang Sumber untuk mengundang para makhluk jagad fana, Semesta Omnia itu tinggal
di jagad baka, Semesta Aethera ciptaannya makin tak tertahankan.





Sang
Sumber juga menciptakan makhluk-makhluk surgawi, termasuk malaikat, namun
mereka tercipta hanya untuk melayani, hidup seperti warna putih-bersih, bukan
penuh warna yang bervariasi dengan berbagai hal, termasuk petualangan seru.
Tanpa itu semua, Sang Sumber hanya bisa kesepian.





Gawatnya
lagi, kesepian itulah yang menggugah sisi hitam, gelap dan negatif dalam diri
Sang Sumber berontak. Ia lantas menciptakan jagad kegelapan yang disebut
Nethera, alias neraka. Untuk sementara, neraka hanyalah jagad kosong yang
menjadi tempat Sang Sumber melampiaskan rasa bosan dan kesepiannya, mencicipi
serunya petualangan sendirian sebagai rekreasi sebelum kembali ke surga dan
bertugas kembali.







Nama-nama jagad
raya di dimensi tempat Ranah Everna berada:





Omnia: Jagad
raya yang bersifat alami dan fana, dapat lahir namun bisa pula musnah.





Aethera: Jagad
raya yang bersifat baka, disebut pula surga. Jagad Aethera adalah ciptaan Sang
Sumber yang sempurna dan abadi. Lafal Bahasa Indonesia: Aedera.





Nethera: Jagad
raya yang bersifat baka, disebut pula neraka. Jagad Nethera semula diciptakan
untuk memuaskan sisi gelap dan kerinduan Sang Sumber, namun berkembang menjadi
“penjara” untuk menyiksa jiwa-jiwa jahat dalam keabadian. Lafal Bahasa
Indonesia: Nedera.






Sampai
di suatu zaman di Terra Everna, evolusi mencapai puncaknya lebih dini dari
ranah manapun di Omnia. Muncullah entitas ilahi yang serupa dan setingkat di
bawah Sang Sumber, yaitu dewa.





Sang
Sumber melihat kesempatan akhirnya tiba, berencana memanfaatkan para dewa untuk
mengajak umat manusia, makhluk fana yang paling sempurna untuk “pulang” dan
tinggal di Aethera, jagad baka ciptaan Sang Sumber.





Kenyataannya,
para dewa malah punya rencana sendiri-sendiri. Mereka malah menciptakan
“surga-surga dunia” yang sebenarnya juga bisa musnah karena masih berada dalam
jagad fana, Omnia. Mereka mengacuhkan semua pesan, kabar baik Sang Sumber yang
seharusnya mereka sampaikan ke seluruh dunia, dalam hal ini Terra Everna. Dan
mereka hidup abadi dengan cara mereka sendiri, dalam kemewahan dan kesenangan
semu yang bisa saja musnah suatu saat nanti.





Para
dewa itu juga bahkan membangun “surga-surga dunia” yaitu Valhalla, Elysion dan
sebagainya, atau “neraka-neraka dunia”, yaitu Hades, Udgard, Dunia Bawah, dan
sebagainya, menampung roh-roh orang mati di sana. Bahkan tempat-tempat itu
terpisah dari “ibukota-ibukota dewata” tempat para dewa tinggal dan mengatur
dunia, yaitu Olympus, Asgard, Shangri-la dan lain sebagainya.





Sang
Sumber bahkan telah mengirimkan utusan dan pesan, memperingatkan para dewa
bahwa cara mereka ini akan berujung pada perang dan kehancuran global, namun
mereka malah membunuh para utusan itu dengan cara yang amat mengerikan. Walau
benar-benar murka, Sang Sumber terlalu mengasihi Everna, sehingga ia
terus-menerus mengirimkan utusan dan peringatan.





Akhirnya,
kekuatiran Sang Sumber terbukti sudah. Perang Dunia Antar Dewa, juga antara
kaum dewata, manusia, siluman dan monster meletus sudah. Perang ini dinamakan
Ragnarok atau Armageddon.





Perang-perang
itu semula tampak sporadis dan lebih ke perang saudara antara para dewa di
“negeri-negeri dewata” yang sama. Namun, kemunculannya yang serentak
menimbulkan kerusakan teramat parah di seantero dunia. Di akhir segala akhir,
dewa api dari Valhalla, Surt meledakkan inti Everna sehingga seluruh dunia
musnah dilalap api abadi. Inilah Kiamat Dunia Pertama Everna yang juga disebut
Apocalypse.





Sang
Sumber amat berduka, akhir Dunia Everna ini sungguh di luar dugaannya. Terpaksa
ia turun tangan sendiri dengan menciptakan Zaman Es, memadamkan semua api yang
ada dan berusaha memulihkan Everna dengan cara yang alami.





Sang
Sumber lalu menyerahkan pengelolaan Planet Everna di zaman ini pada seorang
dewi es terkuat yang selamat dari Apocalypse, yaitu Freyja. Freyja mengubah
namanya menjadi Frei Val’shka dan memerintah seluruh Everna selama seribu dua
puluh empat tahun, sepanjang Zaman Es Kedua ini.





Mengulangi
kesalahan para pendahulunya, Frei Val’shka juga lupa diri dengan mengira
dirinya lebih berkuasa daripada Sang Sumber dan ingin mengatur Everna sesuka
hatinya. Maka, di akhir Zaman Es, pembalasan pada Val’shka sekaligus
perampungan pemulihan dunia datang dari perlawanan umat manusia bersama para
pahlawan terkuat, termasuk sepasang kekasih yang melegenda, Vazar dan Marvella.





Memasuki
Era Dunia Kedua, Sang Sumber memutuskan sudah saatnya ia turun tangan sendiri
dalam kesempatan kedua di salah satu dunia yang paling ideal dan kesayangannya
ini.





Sang
Sumber sadar bahwa dirinya merupakan wujud perpaduan tiga unsur dasar yang
berseberangan. Karena itulah, agar tak jadi seperti dewa-dewa Dunia Pertama,
Sang Sumber menciptakan tiga entitas terpisah, pecahan-pecahan yang berasal
dari esensi dirinya sendiri. Vadis, dari esensi positif, terang dan suci;
Adair, dari esensi negatif, kegelapan dan kematian dan Enia, dari esensi
netral, kehidupan dan alam.







Jadi, di Everna hingga Zaman Penjelajahan Antariksa
dan seterusnya, berkembanglah ajaran-ajaran monotheisme dan keagamaan yang
tersebar merata di seantero dunia, yaitu:





Agama Vadis: Memuja
Vadis sebagai Bapa Waktu, Matahari dan Cahaya di Everna, dalam hubungannya
sebagai pemelihara dunia yang bekerjasama dengan Enia dan Adair.





Agama Enia: Memuja
Enia sebagai Bunda Alam, dalam interaksinya dengan Vadis Sang Matahari dan
Adair Sang Bulan. Inti ajarannya adalah pelestarian alam untuk memelihara
kehidupan.





Agama Adair: Memuja
Adair sebagai Bapa Pemberi Batas Waktu, Bulan, Bintang dan Kegelapan. Ia adalah
sumber takdir untuk perwujudan ambisi, kekuasaan dan kejayaan.





Agama-Agama
Heretik:
Memuja dewa-dewi lama Dunia Pertama, mengira mereka masih berkuasa
atas takdir di Everna. Padahal setelah Apocalypse para dewa itu tercerai-berai,
entah tinggal di surga, neraka ataupun bereinkarnasi sebagai makhluk-makhluk
fana namun sakti atau ajaib.





Ajaran-Ajaran
Sesat:
Sekte-sekte yang biasanya bersifat rahasia bermunculan dari waktu ke
waktu. Kebanyakan adalah pemuja figur-figur kejahatan seperti Frei Val’shka,
Vordac, Arachus, Mephistopheles, Xylen, Nöac, Ahriman, Kali, Tholocaus dan lain
sebagainya.






Sejak
Zaman Peradaban Kuno dan terutama sepanjang Zaman Sihir, Agama Vadis berkembang
dan tersebar amat pesat. Agama Vadis mendapat banyak tantangan dan hambatan
dari Laskar Kegelapan yang dipimpin Vordac, Arachus lalu Mephistopheles dan
para penerus lainnya. Walau demikian, sejarah mencatat bagaimana ajaran
kebaikan ini selalu berhasil bertahan dan berkembang, karena memang agama-agama
resmi itu dijalankan lewat keteguhan hati dan jiwa para penganutnya.







Vadis, Adair dan Enia, para dewa Tritunggal sempat
hadir dan menyebarkan ajaran mereka masing-masing di seantero Everna. Maka, ada
agama-agama versi lain dan nama-nama sebutan lain untuk Vadis-Adair-Enia di
beberapa jazirah, di antaranya: 





Jazirah Antapada:
Sang Mahesa (Vadis), Sang Angkara (Adair), Sang Srisari (Enia)


Benua Ubanga: Asvai
(Vadis), Voodu (Adair), Uma (Enia)


Negeri Wushu: Shen
Wang (Vadis), Mo Wang (Adair), Tie Mu (Enia)


Negeri Shima: Shin
(Vadis), Yami (Adair), Ama (Enia)


Jazirah Al-Kalam:
Al Khalik (Vadis), Al Gajjal (Adair)






Dengan
berkembangnya agama-agama inilah, Sang Sumber memenuhi kerinduannya. Ia telah
mendatangkan banyak jiwa untuk pulang, beristirahat dan hidup bersama di surga
sejati. Walau banyak pula jiwa yang terhilang di neraka atau bereinkarnasi,
setidaknya inilah solusi terbaik bagi Terra Everna hingga ke akhir segala
zaman.





CODEX EVERNIUM – Persebaran Bangsa, Budaya dan Bahasa di Everna


Pada
dasarnya, di Terra Everna tak pernah ada peristiwa kekacauan bahasa seperti
peristiwa Menara Babel di Bumi. Di Zaman Permulaan Dunia Pertama, sempat
terjadi konflik antar sesama manusia, yang semula tinggal bersama dalam satu
wilayah saja. Konflik ini lantas berujung pada peperangan yang hampir
memusnahkan seluruh populasi manusia di Everna.





Jadi,
semua manusia yang tak mau terlibat dan menghindari perang itu pergi dan
mengungsi, menjelajah seantero Everna untuk mencari wilayah yang lebih baik dan
lebih pantas dijadikan tempat tinggal.





Karena
sempat tinggal bersama-sama di satu wilayah, semua negeri di Everna menggunakan
bahasa asal-mula yang tetap berlaku secara global sampai selama-lamanya. Namun,
sejak tinggal terpisah itulah, selama berabad-abad tiap negeri di Terra Everna
juga mengembangkan istilah-istilah dan nama-nama sendiri. Biasanya itu
berdasarkan hal-hal baru apapun yang mereka temukan dan ciptakan di tanah air
baru mereka itu, atau sekadar pembeda bagi versi lain hal atau benda tersebut
di negeri-negeri lain.





Terpengaruh
oleh insiprasi alam bawah sadar dari dunia cerminannya di Dimensi Bumi,
nama-nama yang dipilih malah sama dengan nama benda khas tersebut di Bumi.
Misalnya: Pedang katana, gaun kimono, sayur kimchi, hidangan sushi, nama
fenghuang untuk burung phonenix dan lain-lain.





Budaya
yang dikembangkan dan ciri-ciri penduduk di negeri-negeri tersebutpun amat
mirip Bumi. Contoh, ciri-ciri penduduk dan budaya Taehon di Everna persis sama
dengan ciri-ciri di Korea di Bumi. Penjelasan yang paling logis untuk
terjadinya fenomena ini adalah karena ada kekuatan mahakuasa dari Bumi,
tepatnya Sang Sumber sendirilah yang membimbing setiap suku yang mengembara itu
ke tempat masing-masing yang cocok untuk mereka, yang sengaja diatur supaya
tercermin dengan Bumi.





Sedangkan
bahasa-bahasa baru yang benar-benar orisinil di Everna hanya bahasa-bahasa
untuk mantra atau pemicu sihir dan penghubung ke alam gaib. Yang paling
terkenal adalah Bahasa Runik, Bahasa Eirienne dan Bahasa Encanta (mirip Bahasa
Latin-Campur-Sansekerta di Bumi).

Comments